Pendekar Binal bagian 19

“Haha, sedemikian tinggi kau memuji diriku, tentu kau ingin minta tolong sesuatu padaku,” ucap Yan Nan Tian dengan tertawa.

 “Harap Pendekar Yan maklum,” jawab Shen Qin Hong dengan hormat, “apa pun juga Pendekar Yan pasti tahu. Soalnya hamba baru menerima tawaran suatu partai barang yang sukar dinilai harganya, sebenarnya transaksi ini sangat dirahasiakan dan akan kami kawal secara diam-diam. Tapi entah mengapa, tahu-tahu berita ini dapat didengar oleh kawanan Bandit 12 Shio. Secara blak-blakan mereka mengirim kartu nama dan menyatakan akan merampas barang kawalan kami itu. Tentu saja kami menjadi khawatir, sebab kami cukup tahu diri dan merasa bukan tandingan kawanan bandit Bandit 12 Shio itu dan dengan sendirinya pula kami tidak berani melanjutkan pengawalan tersebut ....”

“Jadi maksudmu hendak minta kubantu Biro pengawalan kalian, begitu?” tanya Yan Nan Tian.

“Ah, mana kuberani,” jawab Shen Qin Hong takut-takut “Hanya saja hamba mendapat informasi bahwa Pendekar Yan bakal berada di sini, maka sengaja hamba janji bertemu dengan kawanan Bandit 12 Shio di sekitar sini, asalkan Pendekar sudi tampil sejenak dan memberi pesan beberapa patah kata, maka hamba yakin biarpun Bandit 12 Shio mempunyai nyali sebesar gajah juga takkan berani mengusik barang kawalan kami itu.”

 “Jika kau tidak mampu mengawal barang orang, mengapa kau terima saja tawaran orang?” tanya Yan Nan Tian.

 “Ya, hamba memang pantas mampus,” jawab Shen Qin Hongdengan menunduk, “Hamba mohon Pendekar Yan berkenan ....” 

“Kawanan Bandit 12 Shio sudah lama terkenal jahat, jika jejak mereka tidak tersembunyi tentu sudah lama kutumpas mereka, sebenarnya urusan ini aku tidak ingin ikut campur ….“ 

“Terima kasih tuan,” tukas Shen Qin Hong.

“Jangan terburu berterima kasih dulu,” ujar Yan Nan Tian. “walaupun aku ingin membantumu, namun saat ini aku sendiri ada urusan penting yang perlu kuselesaikan dan waktu sudah mendesak.” Habis berkata segera ia hendak melangkah pergi. 

“Mohon Pendekar Yan tunggu sejenak,” cepat Shen Qin Hong berseru sambil memberi tanda, segera Qian mengaturkan sebuah peti, ketika peti itu dibuka, isinya ternyata emas murni yang berkemilauan.

 Dengan hormat Shen Qin Hong lantas menambahkan pula, “Sudah lama Pendekar Yan terkenal bertangan terbuka, sebab itu kami mengaturkan ....” 

“Hahahaha!” Yan Nan Tian terbahak-bahak. Mendadak ia berkata dengan ketus, “Shen Qin Hong, biarpun sekarang kau menumpuk emas murni setinggi gunung di depanku juga takkan menghalangi waktu pertemuanku dengan saudaraku Jian Feng.” 

Habis ini ia menepuk bahu Jian Qin dan membentak, “Nah, aku berangkat lebih dulu, kau harus segera menyusul ke sana.” 

Lenyap suara ucapannya itu, tahu-tahu orangnya juga sudah melayang jauh ke sana. Seketika wajah Shen Qin Hong menjadi pucat karena usahanya gagal.

Qian  mengomel sendirian, “Orang ini sungguh aneh, beberapa tael perak dia sengaja menipu, tapi ketika disodorkan emas murni satu peti penuh dia justru menolak ...

No comments:

Post a Comment